Selain itu, ribuan paket makanan tersebut juga diantarkan langsung ke panti-panti asuhan yang tersebar di wilayah Kota Palu, sampai ke wilayah kabupaten tetangga lainnya.
Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin mengatakan, ia sangat mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Bamag Sulteng yang menginisiasi gerakan sosial tersebut. Menurutnya, agama tidak boleh hanya terjebak dalam ruang ritual di dalam rumah ibadah saja, melainkan harus turun ke jalan untuk menjawab persoalan ril kemanusiaan di akar rumput.

“FKUB terlibat dan mengawal penuh gerakan ini untuk memastikan nilai inklusivitas itu berjalan dengan baik,” kata Prof. Zainal.
Ia menjelaskan, pihaknya yang merupakan keterwakilan dari majelis-majelis agama kompak bergerak bersama-sama, saling bahu-membahu mendata panti asuhan seluruh agama yang ada di Kota Palu. Sebab kebijakan menyalurkan bantuan makanan secara merata kepada seluruh panti asuhan lintas iman membawa pesan edukasi sosial yang amat mahal harganya.
“Rasa lapar itu tidak memiliki agama, dan air mata kesusahan itu rasanya sama,” ujarnya.
Olehnya kata dia, ketika pihaknya berbagi makanan ke seluruh panti asuhan tanpa memandang latar belakang keyakinan mereka. Karena dihadapan kemanusiaan, semuanya bisa berbicara dengan bahasa yang sama, dan Ini adalah praktik moderasi beragama yang paling autentik.
Ia menambahkan, bahwa keteladanan yang ditunjukkan di lapangan Vatulemo hari ini, merupakan miniatur dari peradaban masa depan yang dicita-citakan oleh dunia internasional.
“Ini saya kira adalah harapan kita semua dalam mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih aman dan harmonis,” imbuhnya.
Bahwa agama itu hadir lanjutnya, bukan untuk peperangan atau permusuhan, tetapi untuk perdamaian, kemaslahatan, serta kesejahteraan umat manusia. Nilai-nilai luhur universal tersebut telah berhasil dipraktikkan dengan sangat indah di Kota Palu dan Sulteng.
Sementara, Hendrik G. Lyanto atau yang akrab disapa Koh Aceo menyampaikan, bahwa gerakan 10.000 paket makanan tersebut murni lahir dari panggilan moral dan ketulusan hati jajaran Bamag Sulteng untuk ikut meringankan beban hidup sesama di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Menurut pengusaha sukses sekaligus tokoh yang dikenal sangat peduli pada isu kerukunan umat beragama tersebut menjelaskan, bahwa sasaran logistik tersebut dikawal ketat agar benar-benar menyentuh kelompok masyarakat prasejahtera yang membutuhkan.
“Ini murni aksi sosial sebagai wujud kepedulian kami kepada masyarakat yang membutuhkan,” imbuhnya.
Secara umum lanjutnya, pihaknya menyasar kepada saudara-saudara yang kurang mampu, fakir miskin, anak-anak panti asuhan, hingga para pengasuh panti yang tanpa lelah mendedikasikan hidup mereka.
Hendrik berharap, aksi sosial tersebu bermanfaat dan bisa memicu gelombang kebaikan serupa dari elemen-elemen lainnya di Sulteng.
Kehadiran Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, bersama istri di tengah-tengah riuhnya anak-anak panti asuhan lintas iman semakin menambah kehangatan suasana. Sinergi antara pemerintah daerah, lembaga keagamaan seperti FKUB dan Bamag, serta tokoh masyarakat terbukti menjadi pilar utama pertahanan stabilitas keamanan di Ibu Kota Provinsi Sulteng.
Wali Kota mengapresiasi keteladanan yang ditunjukkan oleh para tokoh lintas agama. Menurutnya, ketika para pemimpin umat kompak bergerak dalam aksi nyata yang berdampak kepada masyarakat, itu adahalah kekompakan yang sangat terpuji dan juga sebagai teladan dimata masyarakat.*
















